Kriteria investasi digunakan untuk mengukur manfaat yang diperoleh dan biaya yang dikeluarkan dari suatu proyek..
Untuk mengetahui kriteria tersebut, digunakan analisis finansial.
Analisis finansial adalah suatu analisis yang membandingkan antara biaya
dan manfaat untuk menentukan apakah suatu proyek akan menguntungkan
selama umur proyek (Husnan & Muhammad 2005). Analisis finansial
terdiri dari: NPV, IRR, NETB/C, dan PP.
Berikut sy jelaskan mengenai beberapa hal tersebut..
a. Net Present Value (NPV)
Net Present Value (NPV) suatu proyek menunjukkan manfaat bersih yang
diterima proyek selama umur proyek pada tingkat suku bunga tertentu. NPV
juga dapat diartikan sebagai nilai sekarang dari arus kas yang
ditimbulkan oleh investasi. Dalam menghitung NPV perlu ditentukan
tingkat suku bunga yang relevan.
b. Net Benefit Cost Ratio (Net B/C Rasio)
Net Benefit and Cost ratio (net B/C Ratio) menyatakan besarnya
pengembalian terhadap setiap satu satuan biaya yang telah dikeluarkan
selama umur proyek. Net B/C merupakan angka perbandingan antara present
value dari net benefit yang positif dengan present value dari net
benefit yang negatif.
c. Internal Rate Return (IRR)
Internal Rate Return adalah tingkat bunga yang menyamakan present value
kas keluar yang diharapkan dengan present value aliran kas masuk yang
diharapkan, atau didefinisikan juga sebagai tingkat bunga yang
menyebabkan Net Present Value (NPV) sama dengan nol (0). Gittinger
(1986) menyebutkan bahwa IRR adalah tingkat rata-rata keuntungan
internal tahunan bagi perusahaan yang melakukan investasi dan dinyatakan
dalam satuan persen.
d. Payback Period (PP)
Payback Period atau tingkat pengembalian investasi adalah salah satu
metode dalam menilai kelayakan suatu usaha yang digunakan untuk mengukur
periode jangka waktu pengembalian modal. Semakin cepat modal itu dapat
kembali, semakin baik suatu proyek untuk diusahakan karena modal yang
kembali dapat dipakai untuk membiayai kegiatan lain.
4.1 Keputusan go/no go dan Pengurutan Proyek
Pada hakikatnya melelui penilaian proyek, kita dapat
menarik dua kesimpulan. Pertama, melalui evaluasi proyek kita dapat
menentukan apakah Benefit netto suatu proyek lebih besar atau lebih
kecil daripada Benefit netto suatu peluang investasi marginal. Jika
suatu proyek menghasilkan Benefit netto yang lebih besar daripada
Benefit netto proyek marginal, pelaksanaannya dapat disetujui, jika
lebih kecil, pelaksanaannya harusnya ditolak. Kesimpulan ini mendasari
keputusan go/no go.
Kedua, melalui evaluasi proyek kita dapat menentukan urutan
berbagai proyek dalam serangkaian peluang investasi yang lebih baik
daripada proyek marginal, dan proyek yang berada pada urutan teratas
dalam susunan proyek berarti, proyek tersebut merupakan proyek yang
mempunyai Benefit lebih besar.
Kelompok proyek yang termasuk dalam kedua jenis ini, dibagi menjadi dua golongan, yaitu :
· Proyek yang mutually exclusive alternatives, dua atau lebih proyek
merupakan mutually exclusive alternatives, apabila pelaksanaan salah
satu diantaranya meniadakan kemungkinan proyek yang lainnya. Adanya
mutually exclusive ini disebabkan karena dana yang tersedia tidak cukup
untuk membiayai lebih dari satu peluang investasi, proyek-proyek
tersebut pada hakikatnya merupakan proyek yang menghasilkan jenis barang
atau sasaran tertentu yang sama. Misalnya tempat-tempat alternative
untuk mendirikan pabrik, bendungan, jalan dsb.
· Proyek yang bukan mutually exclusive alternatives, apabila suatu
proyek tidak merupakan alternative terhadap proyek yang lain, baik dalam
hal penggunaan sumber-sumber maupun pencapaian sasaran yang diharapkan.
Proyek seperti ini dapat mempunyai sasaran yang berbeda jenisnya,
seperti proyek pabrik semen, pabrik pupuk, proyek transmigrasi, dan
proyek perluasan Sekolah Dasar. Proyek ini juga dapat berupa proyek yang
saling melengkapi, misalnya proyek pabrik pupuk, proyek ekstensifikasi
penanaman padi, dan proyek pergudangan beras.
Idealnya tidak mungkin ada proyek yang secara strategis lebih bermanfaat
bagi masyarakat daripada proyek marjinal, tetapitidak dapat
dilaksanakan karena kekurangan dana. Proyek marjinal merupakan proyek
yang menguntungkan tetapi dikecualikan ( atau ditunda ) pelaksanaanya
karena terbentur pada masalah pembiayaan. Tetapi dalam kenyataannya,
sebagian Negara berkembang mempunyai daftar proyek yang menunggu
pembiayaan, yang akan diramalkan akan memberikan rate of return yang
lebih tinggi daripada discount rate social yang akan ditentukan oleh
rentabilitas proyek marjinal. Jadi, pihak yang berwenang di bidang
penyusunan anggaran selalu dihadapkan pada perlunya mengurutkan berbagai
proyek demi memilih proyek yang menguntungkan dari sudut pandang
masyarakat yang tentunya memenuhi syarat criteria investasi.
4.2 Macam-macam Kriteria Investasi
Lima macam criteria investasi, yaitu :
1. Net Present Value dari Arus Benefit dan Biaya ( NPV )
Keuntungan netto suatu usaha adalah pendapatan bruto dikurangi jumlah
biaya. Maka NPV suatu proyek adalah selisisih PV arus benefit dengan PV
arus biaya.
Bt = benefit sosial bruto pada th t ( terdiri dari segala jenis penerimaan atau keuntungan non financial pada th t )
Ct = biaya sosial bruto pada th t ( terdiri dari segala jenis
pengeluaran, baik yang bersifat modal maupun rutin ) yang dibebani
kepada penyelenggara proyek pada t ( termasuk investasi semula dalam
tahun ke nol dan seterusnya.
n = umur ekonomis proyek
i = social opportunity costof capital yang digunakan sebagai social discount rate.
Suatu proyek dapat bermanfaat untuk dilaksanakan bila NPV proyek
tersebut sama atau lebih besar dari nol, apabila NPV = 0, berarti proyek
tersebut mengembalikan persis sebesar social opportunity costfaktor
produksi modal. Jika NPV lebih kecil dari no, proyek tidak dapat
menghasilkan senilai biaya yang dipergunakan oleh karena itu
pelaksanaannya harus ditolak. Sumber-sumber yang seharusnya dialokasikan
untuk proyek tersebut sebaiknya digunakan pada penggunaan lain yang
lebih menguntungkan.
2. Internal Rate of Return ( IRR )
Internal Rate of return adalah rate of return atau tingkat rendemen atas investasi netto.
Bt dan Ct : Benefit/biaya social bruto dalam th t
Bt-Ct : benefit netto dalam th t, dimana sisi negative merupakan investasi
n : umur ekonomis proyek
Ft : nilai investasi yang belum dikembalikan sampai akhir tahun t,
setelah realisasi benefit atau biaya yang terjadi dalam th itu.
Rt : rendemen implicit dalam th t, entah dibayarkan ( supaya betul diterima/dirasakan oleh penyelenggara proyek ) atau tidak.
Jadi IRR adalah tingkat t yang memenuhi tiga syarat sebagai berikut :
- rendemen implicit dalam tiap tahun sama dengan hasil i kali
nilai investasi pada akhir tahun sebelumnya, yakni : Rt = iFt-1
- nilai investasi pada akhir tahun t = nilai pada tahun
sebeumnya ditambah dengan sisa pengurangan benefit netto dan rendemen
implisit, yakni :
Ft = Ft-1+Rt- ( Bt-Ct )
= Ft-1+iFt-1 – ( Bt-Ct )
= ( 1+i )Ft-1 – ( Bt-Ct )
Ft akan lebih kecil dari Ft-1 apabila benefit netto melebihi rendemen
implicit, yaitu Bt-Ct >Rt yang berarti sebagian dari investasi
dikembalikan pada th t.
- Benefit netto pada akhir umur proyek ( tahun n ) adalah jumlah
( a ) nilai investasi yang masih berlaku pada akhir tahun sebelumnya,
ditambah ( b ) rendemen implicit. Akibatnya, nilai investasi pada akhir
tahun n menjadi nol.
Bn – Cn = Fn-1 + iFn-1 =(1 + i ) Fn-1
3. Net Benefit-Cost Ratio ( Net B/C )
Net B/C merupakan angka perbandingan antara jumlah present value yang
positif ( sebagai pembilang ) dengan jumlah present value yang negative (
sebagai penyebut ). Secara umum rumusnya adalah :
4. Gross Benefit-Cost Ratio ( Gross B/C )
Dalam perhitungan Gross B/C, pembilang adalah jumlah present value arus
benefit ( bruto ) dan penyebut adalah jumlah present value arus biaya (
bruto ). Jadi rumusnya adalah :
5. Provitability Ratio ( PV’ K )
Criteria ini dipergunakan untuk mengukur rentabilitas suatu proyek di
atas titik netral sebesar 1,0 dimana NPV = 0. tetapi criteria ini
dipahami sebagai indeks rentabilitas sehubungan dengan biaya modal saja,
yakni membandingkan present value arus sisa benefit dikurangi dengan
biaya rutin dan biaya modal. Rumusnya adalah:
4.3 Inflasi Harga Umum dan Kriteria Investas
Dalam perhitungannya, seluruh benefit dan biaya yang dibandingkan
dalam rangka criteria invcstasi harus bersifat riil, yakni harus dinilai
berdasar tingkat harga umum yang konstan.
Pemakaian uang sebagai dasar ukuran dimaksudkan untuk memudahkan
analisis, yaitu dengan menyediakan suatu dasar pembandingan antara
berbagai benefit dan biaya. Semisal proyek A dan B memounyai arus
benefit netto menurut harga konstan:
NPVA= -1,0 + 0,8696 (0,5) = 304 jt
NPVB= -1,0 + 0,8696 (0,5) + 0,7561 (1,0) = 191 jt
Terlihat bahwa proyek A lebih menguntungkan. Namun dengan adanya laju
inflasi harga umum yang diramalkan sebesar 25%, maka akan memberikan
NPVA = 630jt dan NPVB = 725jt. Dari sini terlihat bahwa proyek B tampak
lebih menguntungkan. Akan tetapi tujuan analisis benefit Cost adalah
memaksimalkan nilai sekarang dari suatu arus daya beli atau, tuntutan
akan barang dan jasa riil. Semisal terdapat beras yang merupakan barang
konsumsi, produksi dalam proyek A dan B sebagai berikut:
Tahun ke
0 1 2
A - 10.000 ton 15.000 ton -
B - 10.000 ton 5.000 ton 10.000 ton
Ketika dalam perhitungan konstan seperti contoh diatas tadi menyatakan
proyek B yang lebih benefit, namun apabila kita mengalikan angka inflasi
pada tiap tahun, maka harga tahun kedua akan meningkat sehingga proyek A
yang dinilai lebih benefit dikarenakan mampu menyediakan beras lebih
cepat 1 tahun.
4.3 Depresiasi dan criteria Inflasi
Dalam analisis benefit cost, penyusutan tidak dimasukkan dalam arus
biaya proyek. Hal ini dikarenakan biaya modal sudah masuk dalam arus
biaya, sehingga ketika ditambah biaya penyusutan malah akan menyebabkan
double counting. Penyusutan adalah salah satu unsure cashflow yang masuk
dalam benefit bruto, namun dalam penghitungan benefit netto, penyusutan
tidak boleh dikurangkan dengan benefit bruto.
4.3 Kesimpulan
Evaluasi proyek mendasari dua keputusan yang akan diambil dalam
investasi, yakni go project atau non go project, dan perangkingan
berbagai proyek atau alternatif proyek berdasarkan keuntungan yang
didapat.
Kriteria yang digunakan sebagai indeks untuk menentukan keputusan tersebut diantaranya :
NPV : selisih present value dari arus benefit da biaya, dihitung dari discount rate
IRR : tingkat discount rate yang menjadikan NPV suatu proyek sama dengna nol
Net B/C : angka perbandingan present value dari arus benefit bruto yang positif terhadap arus benefit netto yang negative
Gross B/C & Profitability : Merupakan salah pengertian tentang inti
ekonomis benefit dan biaya, sehingga tak digunakan di Indonesia.
Penghitungan benefit biaya berdasar nilai nominal dan riil dapat
mempengaruhi perhitungan investasi sedemikian rupa sehingga dapat
mengelirukan dalam pemilihan proyek.
Arus penyusutan tidak dimasukkan dalam komponen biaya dalam perhitungna kriteria